2005
11
Apr

Daerah di seberang danau Batur adalah daerah yang masih asing buat orang kebanyakan. Di situ terdapat sebuah desa yang dipercaya masyarakat Bali umumnya masih asli banget. Ya…, lo bayangin aja kaya badui di Jabar. Cuman saat ini, penduduk desa ini (Trunyan) udah bisa membuka hubungan dengan dunia luar.

Untuk mencapai desa tersebut, kita mesti naek perahu dari kawasan pariwisata Danau Batur. Kalo udah nyampe sana, ya ramah..ramah dikit lah. Jangan terlalu over-akting. Masyarakat disini dikenal sebagai “Baliaga” atau bali yang masih asli. Dan mereka ngga suka keributan.

Hal yang paling unik disini adalah cara mereka menguburkan mayat. Tidak seperti masyarakat Bali umumnya yang membakar mayat dalam upacara ngaben, disini mayat mereka taruh begitu saja di sebuah areal hutan. Anehnya, mayat itu tak akan mengeluarkan bau busuk walo sudah disana selama berbulan-bulan.

Mitosnya, di areal hutan tersebut terdapat sebuah pohon yang bisa mengeluarkan bau harum dan mampu menetralisir bau busuk mayat. Taru berarti pohon, sedang Menyan berarti harum. Jadilah Tarumenyan yang kemudian lebih dikenal sebagai Trunyan

Email artikel ini ke temen kamu | 25,680 views Share

1 Star2 Stars3 Stars4 Stars5 Stars (5 votes, average: 3.00 out of 5)
Loading ... Loading ...

Artikel laen yang rada2 masih terkait:

Share this

55 Responses to “Trunyan”

Add Comment
← Older Comments
  1. Mmm…ta kira cerita suamiku hanya cerita palsu.Pingin sekali..ke trunyan..tapi dia bilang jangan kesana banyak tukang palak..setelah baca coment2nya sangat2 mengerikan..sayang sekali ya..semoga ada jalan keluarnya..
    Love balii

  2. setahun yg yang lalu sy sekeluarga, suami dan dua anak kecil ke trunyan. langsung ke desa utamanya. suasama sepi. tp banyak lelaki yg menawarkan perahu buat ke kuburan. suami sy kaget, kami berempat dtawari biaya tigaratus ribu pulang pergi. semula kami menolak, tp lantaran anak2 kpengen banget lihat mayat2 yg bergeletakan di sana, okelah kami setuju. tiga lelaki yg mengantar kami, ramah lho. mereka gantian bercerita tentang trunyan. sampai d kuburanpun mereka semangat memandu kami. selesai ke kuburan, mereka mengantar kami pulang. d perjalanan hujan lebat, tp mereka tetap semangat mendayung perahu kayu itu walaupun kehujanan. sampai di desa utama kami msh dipandu jalan-jalan ke pura trbesar di situ. mampir ke sebuah warung buat minum teh panas. berinteraksi dengan penduduk yg sdang ngopi juga. Alhamdulillah, mereka sangat ramah, banyak ngobrol dan menjaga kenyamanan kami. waktu kami pamit pulang, mereka ramai-ramai mengantar sampai mobil dan mendoakan kami selamat dan banyak rejeki!!! suami sy bilang, tigaratus ribu yg kami keluarkan sungguh kecil dan tdk sepandan dengan pelayanan mereka. mereka mendayung perahu kayu sambil kena hujan deras, memandu dan menjaga kami. jadi, pengalaman ini luar biasa bagi kami, karena banyak orang malah mendapatkan peristiwa buruk di sana. awalnya supir kami yang orang denpasar keberatan waktu kami minta pergi ke sana. dan mewanti-wanti tdk berhenti di jalan sebelum sampai ke desa utama trunyan. ktnya, orang trunyan asli sebenarnya baik. yg suka bikin masalah bukan orang trunyan asli, alias orang di luar trunyan.

  3. whuaduh!!! kok ceritanya pd nggak enak semua yah? pdhl besok pengen cabut ke trunyan sendirian..
    jadi mikir2 lagi deh

  4. reivanca alui

    Reply

    9 Jan 2012

    Maaf2 ne bagi km2 yg skrng blm k trunyan lagi. Trunyan skrng ga ky yg km2 critakan td trakhir aq k trunyan tgl 1 bln januari 2012. Bagi aq orng kmpung trunyan skrng atau pun dloe penuh keramah tamahan, nyatanya aq k mkam trunyan jam 6 sore wkt bali aman2 aje, jd bgi km2 yg ngmng trunyan bnyak pmalakan aq blg bohoooooooonggggggggg………


← Older Comments

Leave a Reply

Notify me of followup comments via e-mail. You can also subscribe without commenting.